ANALISA YURISPRUDENSI HUKUM ISLAM ABAD PERTAMA

(Tentang Ahli Waris Nenek)

PENDAHULUAN

Putusan-putusan mengenai sengketa waris dilingkungan peradilan agama pada umumnya didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, fiqih dan Kompilasi Hukum Islam yang terbawa arus dengan pemikiran patrilineal. Pemikiran hukum kewarisan patrilineal kurang sejalan dengan rasa keadilan masyarakat muslim Nusantara yang hidup dalam hukum yang terus berkembang pada masa kini. Sehingga putusan pengadilan agama kadang dirasa asing oleh para pencari keadilan.

Sejatinya yurisprudensi waris Islam di abad awal sangat beragam dari bentuk yang patrilineal, semi patrilineal maupun parental. Jika hakim peradilan agama menggali yurisprudensi hukum waris Islam abad pertama maka akan menemukan norma-norma hukum yang lebih relevant dengan hukum waris yang berlaku ditengah masyarakat Nusantara. Atas dasar itu yurisprudensi hukum waris Islam abad pertama sangat menarik untuk digali kembali dan dipertimbangkan untuk dijadikan sumber hukum bagi hakim peradilan agama dalam memutus perkara, agar putusannya sejalan dengan perkembangan rasa keadilan masyarakat pada masa kini.

Tulisan ini dimulai dengan yurisprudensi tentang nenek sebagai ahli waris, mudah-mudahan dalam kesempatan lain dapat disajikan pula yurisprudensi tentang ahli waris lainnya.

Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang pertama dan utama tidak mengatur secara eksplisit tentang ahli waris nenek. Namun demikian Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya meninggalkan yurisprudensi tentang bagian nenek dari harta waris cucunya sebagai sumber hukum bagi fuqaha (ahli hukum) maupu qadi (hakim).

Dalam hasanah fiqih waris, terdapat dua garis asal-usul nenek. Pertama nenek dari pihak ayah pewaris; dan Kedua nenek dari pihak ibu pewaris. Perincian nenek dari pihak ayah (Na) sampai derajat III (ketiga) terdiri dari 7 nenek:

Nenek derajat I Na.I Ibu dari ayah pewaris (ummu al-Abi)
Nenek derajat II Na.II.1 Ibu dari kakek dari ayah pewaris (ummu abi al-abi)
Na.II.2 Ibu dari nenek dari ayah pewaris (ummu ummi al-abi)
Nenek derajat III Na.III.1 Ibu dari buyut laki-laki dari kakek dari ayah pewaris (ummu Abi Abi al-abi)
Na.III.2 Ibu dari buyut perempuan dari kakek dari ayah pewaris (ummu ummi abi al-abi)
Na.III.3 Ibu dari buyut laki-laki dari nenek dari ayah pewaris (ummi abi ummi al-abi)
Na.III.4 Ibu dari buyut perempuan dari nenek dari ayah pewaris (ummu ummi ummi al-abi)

Lihat Diagram 1

Perincian nenek dari pihak ibu (Ni) sampai derajat III (ketiga) terdiri dari 7 nenek:

Nenek derajat I Ni.I Ibu dari ibu pewaris (ummu al-ummi)
Nenek derajat II Ni.II.1 Ibu dari kakek dari ibu pewaris (ummu abi al-ummi)
Ni.II.2 Ibu dari nenek dari ibu pewaris (ummu ummi al-ummi).
Nenek derajat III Ni.III.1 Ibu dari buyut laki-laki dari kakek dari ibu pewaris (ummu abi ummi al-ummi)
Ni.III.2 Ibu dari buyut perempuan dari kakek dari ibu pewaris (ummu ummi abi al-ummi)
Ni.III.3 Ibu dari buyut laki-laki dari nenek dari ibu pewaris (ummu abi ummi al-ummi)
Ni.III.4 Ibu dari buyut perempuan dari nenek dari ibu pewaris (ummu ummi ummi al-ummi)

Lihat diagram 2

B. YURISPRUDENSI NABI MUHAMMAD DAN PARA SAHABAT NABI MUHAMMAD

Menurut Abdullah ibnu Mas’ud[[3]](#_ftn3), nenek yang pertama diberi tu’mah oleh Nabi Muhammad saw. dalam putusan tersebut adalah nenek dari pihak ayah Na.I (ummu al-abi).[[4]](#_ftn4) Abdullah Ibnu Abbas[[5]](#_ftn5) menjelaskan bahwa tu’mah yang diberikan kepada nenek oleh Nabi Muhammad senilai 1/6 bagian dari harta waris.[[6]](#_ftn6) Berdasarkan riwayat Abu Hurairah, Nabi Muhammad memberi nenek (nenek dari pihak ayah-pen) 1/6 jika pewaris tidak meninggalkan ibu.[[7]](#_ftn7)

Al-Darimi meriwayatkan hadits tersebut dari Ibrahim.[[9]](#_ftn9) Menurut Ibrahim ketiga nenek tersebut adalah nenek dari ayah dan nenek dari ibu.[[10]](#_ftn10) Ibrahim tidak menjelaskan berapa nenek dari pihak ayah dan berapa nenek dari pihak ibu.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Darimi dari Ubadah bin Shamat.[[12]](#_ftn12)  Ubadah bin Shamat tidak menjelaskan kedua nenek tersebut dari pihak ayah atau dari pihak ibu.

Keputusan Abu Bakar tersebut diriwayatkan oleh Al-Darimi, Ibnu Hibban dan Abu Dawud dari Al-Zuhri.[[14]](#_ftn14) Serta diriwatkan pula oleh Imam Hakim dari Qabishah bin Dzuaib.[[15]](#_ftn15) Al-Zuhri meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar menanyakan kedudukan dalam warisan cucu dari anak perempuan atau anak laki-lakinya yang meninggal dunia. Abu Bakar bertanya kepada para sahabat Nabi Muhammad saw.  barang kali ada yurisprudensi Nabi Muhammad saw. seorang sahabat bernama Al-Mughirah bin Syu’bah[[16]](#_ftn16) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. memberi nenek 1/6 bagian dari harta waris. Penjelasan Mughirah bin Syu’bah tersebut dibenarkan oleh sahabat Nabi Muhammad saw. lainnya yang bernama Muhammad bin Maslamah[[17]](#_ftn17)

Keputusan Umar bin Khatthab tersebut diriwayatkan oleh Al-Darimi, Ibnu Hibban dan Abu Daud dari Al-Zuhri. Umar bin Khatthab memutus kasus nenek tersebut berdasarkan putusan Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah yang dijadikan dasar hukum dalam putusan Abu Bakar. Keputusan Umar bin Khatthab tersebut tidak menjelaskan nenek tersebut mewaris bersama siapa. Ketidak jelasan ini dapat dihubungkan dengan riwayat Sa’id bin Musayyab[[19]](#_ftn19), bahwa Umar bin Khatthab memutus kasus nenek dalam keadaan pewaris meninggalkan nenek dan bapak pewaris (anak laki-laki nenek).[[20]](#_ftn20)

Putusan Utsman bin Affan tersebut diriwayatkan oleh Al-Darimi dari Al-Zuhri. Al-Zuhri tidak menjelaskan kasus nenek dalam putusan Utsman bin Affan, apakah pewaris (cucu nenek punya anak atau saudara) serta tidak menjelaskan berapa bagian nenek dari harta waris pewaris (cucu nenek).

Putusan Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit tersebut diriwayatkan oleh Al-Darimi dari Al-sya’bi.[[26]](#_ftn26)

Putusan Abdullah ibnu Mas’ud tersebut diriwayatkan oleh Al-Darimi dari Ibnu Sirin[[28]](#_ftn28) Ibnu Sirin tidak menjelaskan berapa banyak tu’mah yang diberikan kepada nenek. Menurut Ibrahim, Abdullah bin Mas’ud memberi waris nenek dan anak laki-laki nenek (bapak pewaris –pen) masih hidup.[[29]](#_ftn29) Riwayat Ibrahim yang menyatakan diberi waris bertentangan dengan riwayat Ibnu Sirin yang menyatakan nenek diberi tu’mah, namun demikian yang lebih mendekati yurisprudensi Nabi Muhammad saw. adalah riwayat Ibnu Sirin karena Nabi Muhammad saw. memberi nenek dari harta waris adalah tu’mah bukan sebagai ahli waris.

C. ANALISA

Yurisprudensi Nabi Muhammad tentang pemberian tu’mah kepada nenek dijadikan sumber hukum hanya oleh Abdullah bin Mas’ud. Para sahabat lainnya Abu bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit memberi bagian waris kepada nenek tanpa menjelaskan apakah tu’mah atau bagian waris. Perkembangan lebih lanjut, para fuqaha mazhab empat Malikiah, Hanafiah, Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat menetapkan nenek sebagai ahli waris.[[32]](#_ftn32) Pendapat fuqaha mazhab empat tersebut bergeser dari yurisprudensi Nabi Muhammad bahwa nenek bukan diberi waris melainkan diberi tu’mah (pemberian).

Putusan Nabi Muhammad memberi tiga orang nenek tu’mah dipahami oleh para fuqaha mazhab empat, kecuali Malikiah, bahwa tiga nenek tersebut adalah ibu dari ayah pewaris (ummu al-abi), ibu dari ibu pewaris (ummu al-ummi) dan ibu dari kakek dari ayah pewaris (ummu abi al-abi). Atas dasar pemahaman tersebut Hanafiah, Syafi’iah dan Hanabilah berpendapat ketiga nenek tersebut sebagai ahli waris. Mazhab Malikiah berbeda pendapat bahwa nenek yang diberi bagian waris hanya dua nenek yaitu ibu dari ayah pewaris (ummu al-abi) dan ibu dari ibu pewaris (ummu al-ummi). [[33]](#_ftn33)

Abdullah Ibnu Mas’ud, menurut riwayat yang kurang populer (syaz), berpendapat kedudukan nenek dalam semua tingkatan sama diberi tu’mah, sehingga nenek derajat ke satu, ke dua dan ke tiga bila mereka masih hidup diberi tu’mah berbagi sama. Pendapat Abdullah bin Mas’ud dikuti oleh al-Hasan dan Ibnu Sirin.[[34]](#_ftn34) Menurut riwayat Abu Muhammad Al-Maqdisi para sahabat dan tabi’i yang berpendapat empat enek menjadi ahli waris adalah Abdullah Ibnu Abbas, Jabir bin Zaid, Mujahid, dan Ibnu Sirin.[[35]](#_ftn35) Pendapat lainnya yang berbeda adalah pendapat seorang tabi’i yakni Masruq, beliau berpendapat bahwa jika empat nenek masih hidup maka nenek (Na.II.1) yaitu ibu dari kakek dari ayah pewaris tidak diberi bagian waris. Pendapat masruq tersebut tidak mengikuti yurisprudensi Nabi Muhammad, oleh karena itu pendapat Masruq tersebut tidak berkembang sebagaimana tidak berkembangnya pendapat Abdullah bin Mas’ud.

Putusan Nabi Muhammad tentang nenek dibei tu’mah 1/6 baik untuk satu orang atau lebih diikuti oleh semua sahabat Nabi Muhammad saw dan para fuqaha empat mazhab sebagai sumber hukum.[[36]](#_ftn36) Berbeda halnya mengenai persoalan siapa yang dapat menghijab nenek sebagai ahli waris. Putusan Nabi Muhammad saw menetapkan ibu menghijab nenek, sehingga nenek tidak diberi tu’mah ketika ada ibu. Akan tetapi mazhab empat mengembangkan norma hukum lainnya seputar *hajib mahjub-*nya nenek. Mazhab Malikiah, Hanafiah syafi’iah dan Hanabilah sepakat bahwa ibu menghijab nenek dari pihak ibu (Ni.I, Ni.II dan Ni.III) dan nenek dari pihak ayah (Na.I, Na.II, Na.III).[[37]](#_ftn37) Perbedaan pendapat diantara mazhab empat mengenai ayah menghijab nenek. Mazhab Malikiah, Hanafiah dan Syafi’iah berpendapat ayah hanya menghijab nenek dari pihak ayah (Na.I, Na.II, Na.III) tidak menghijab nenek dari pihak ibu (Ni.I, Ni.II, Ni.III).[[38]](#_ftn38) Mazhab Hanabilah berpendapat ayah tidak menghijab nenek, baik nenek dari ibu (Ni.I, Ni.II dan Ni.III) maupun nenek dari ayah (Na.I, Na.II dan Na.III).[[39]](#_ftn39)  Mazhab Malikiah, Hanafiah, syafi’iyah berpendapat nenek dari pihak ibu yang lebih dekat kepada pewaris (Ni.I) mengijab nenek  yang lebih jauh baik nenek dari pihak ayah (Na.II dan Na.III) maupun dari pihak ibu (Ni.II dan Ni.III). Nenek dari pihak ayah yang lebih dekat dengan pewaris (Na.I) hanya menghijab nenek pihak ayah yang lebih jauh dari pewaris Na.II dan Na.III) tidak menghijab nenek dari pihak ibu yang lebih jauh dari pewaris (Ni.II dan Ni.III).[[40]](#_ftn40)

Pengembangan hukum waris Islam diluar tradisi fuqaha, salah satunya, dilakukan oleh Hazairin. Beliau berpendapat nenek dari pihak ayah maupun dari pihak ibu sebagai ahli waris berdasarkan Al-Qur’an Surah Al-Nisa IV:33. Menurut beliau nenek tingkat pertama terdapat dua nenek, yaitu nenek dari pihak ayah (Na.I) dan neneh dari pihak ibu (Ni.I). Selanjutnya nenek tingkat  kedua terdapat empat nenek, dua orang nenak dari pihak ayah (Na.II.1, Na.II.2) dan dua orang dari pihak ibu (Ni.II.1, Ni.II.2). Adapun nenek tingkat ketiga terdapat delapan nenek, empat orang dari pihak ayah (Na.III.1, Na.III.2, Na.III.3, Na.III.4) dan empat orang dari pihak ibu (Ni.III.1, Ni.III.2, Ni.III.3, Ni.III.4). Ayah menghijab nenek dari pihak ayah dalam segala tingkatan akan tetapi tidak dapat menghijab nenek dari pihak ibu. Demikian halnya, ibu menghijab nenek dari pihak ibu dalam segala tingkatan akan tetapi tidak menghijab nenek dari pihak ayah. Nenek dari pihak ayah dalam tingkatan lebih dekat menghijab nenek dari pihak ayah tingkatan yang lebih jauh, demikian halnya nenek dari pihak ibu dalam tingkatan lebih dekat menghijab nenek dari pihak ibu dalam tingkatan lebih jauh.[[41]](#_ftn41)

Kompilasi hukum Islam tidak menjelaskan mengenai nenek sebagai ahli waris secara detail, akan tetapi nenek sebagai ahli waris dicantukan secara umum dalam pasal 174 ayat (1) huruf a “Golongan perempuan (sebagai ahliwaris – pen) terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek”.

KESIMPULAN

Dinamika ijtihad para sahabat dan fuqaha mazhab empat tentang kedudukan nenek dalam hukum kewarisan sangat menarik untuk dijadikan dasar ijtihad para hakim pengadilan agama dalam memutus perkara. Sebagian para sahabat dan fuqaha memiliki dinamika pemikiran dengan mengembangkan norma hukum baru tentang kedudukan nenek dalam hukum waris tanpa harus mengikuti tekstual yurisprudensi Nabi Muhammad. Bahkan yang lebih menarik, pengembangan yang dilakukan oleh Abdullah bin Mas’ud. Beliau mendudukkan nenek dari pihak ayah dan ibu sama, sehingga tidak ada nenek yang tidak dapat bagian tu’mah. Pendapat Abdullah bin Mas’ud menyimpang dari mainstreem dimana para sahabat dan mazhab empat masih menyisakan nenek golongan dzawil arham yakni kelompok nenek yang baru dapat mewaris setelah ahli waris ashabul furud dan ashabah tidak ada. Pendapat Abdullah bin Mas’ud tersebut  dikembangkan oleh Hazairin. Pendapat inilah lebih selaras diterapkan pada masa sekarang dimana hukum  harus mengedepankan kesetaraan jender. Wallahu a’lam bisshawwab.


[1] Kata tu’mah memiliki arti pemberian sebagai rizki bukan bagian hak waris dan pemberian tambahan dari hak waritsir, Al-Nihayah fi Gharaibu al-Hadits wa Atsar, Risalah Nasyirah, Beirut Libanon, 2013, h.747;

[2] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 950.NA.2933;

[3] Abdullah bin Mas’ud salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad (sahabat al-sabiqunal awwalun) pernah mengikuti pererang Yarmuk, ikut dua kali hijrah. Wafat tahun 32 Hijriyah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dn, 2004, Juz II, h.2523.

[4] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, hal. 950.NA.2933.

[5] Abdullah bin Abbas adalah saudara sepupu Nabi Muhammad saw. ahli tafsir wafat tahun 68 Hijriyah. Lihat Muhammad bin n bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz II, h.2409.

[6] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 950.NH.2934.

[7] Abu Dâud (w.275 H), Sunan Abû Dâud, Beirut, Dâr al-Arqâm, 1999, h. 674. NA.2895.

[8] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, hal. 951.NH.2936.

[9] Nama lengkapnya Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf (w.96H). Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya Abdurrahman btsman, Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqash, ‘Amar bin Yasar, Jubair bin Muth’im dan sahabat Nabi Muhammad lainnya. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz alyar A’lam al-Nubala_**, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz I, h.670.

[](#_ftnref10 [10] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 951.NH.2936.

[11] Al-Hakim (w.405), al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Libanon, Daar al-Ihya al-Turats al-‘Arabiy, 2002, h.1519.NA.8052.

[12] ‘Ubadah bi Shamat salah seorang sahabat Nabi Muhammad wafat tahun 34 Hijriyah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz II, h.2117.

[13] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 951. NH.2940.; Lihat pula Ibnu Hibban (w.254 H), Shahih Ibnu Hibban, Libanon, Bait al-Afkar al-Dauliyyah, 2004. h.1033. NH.5999.  Abu Dâud (w.275 H), Sunan Abû Dâud, Beirut, Dâr al-Arqâm, 1999, h.674. NA.2894; Al-Hakim (w.405), al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Libanon, Daar al-Ihya al-Turats al-‘Arabiy, 2002, h.1518. NA.8045.

[14] Al-Zuhri nama lengkapnya Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah Al-Zuhri, lahir tahun 50 Hijriyah wafat tahun 124 Hijriyah. Seorang Ulama Besar tabi’in (orang yang tidak hidup dizaman Nabi Muhammad saw akan tetapi hidup pada masa sahabat Nabi Muhammad saw), Hafiz Quran pada masanya, Beliau meriwayatkan hadits dari Abdullah Ibnu Umar, Jabir bin Abdillah dan Abu Hurairah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz III, h.3700.

[15] Qabishah bi Dzuaib tabi’in seorang ulama (Faqiih) meriwayatkan hadits dari sahabat Nabi diantaranya Abu bakar, Umar bin Khatthab, Abu Darda, Bilal, Abdul Rahman bin Auf, wafat tahun 86 Hijriyah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz II, h.3080.

[16] Al-Mughirah bin Syu’bah  salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad saw.  dalam perang Yarmuk (Menurut suatu riwayat dalam perang Qadisiah) penglihatannya hilang, wafat tahun 50 Hijriyah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz III, h.3917.

[17] Muhammad bin Maslamah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad saw. yang ikut dalam perang Badar wafat tahun 51 Hijriyah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz III, h.3709.

[18] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 951.NH.2940. Ibnu Hibban (w.254 H), Shahih Ibnu Hibban, Libanon, Bait al-Afkar al-Dauliyyah, 2004, h.1033. NH.5999. Abu Dâud (w.275 H), Sunan Abû Dâud, Beirut, Dâr al-Arqâm, 1999, h. 674. NA.2894; Al-Hakim (w.405), al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Libanon, Daar al-Ihya al-Turats al-‘Arabiy, 2002, h.1518. NA.8045.

[19] Sa’id bin Musayyab bin Hazn Al-Makhzumi. Beliau termasuk Tabi’in yang banyak meriwayatkan hadits dari para sahabat nabi Muhammad saw. diantaranya Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abu Musa Al-‘Asy’ari, ‘Aisyah dan banyak lagi sahabat Nabi Muhammad lainnya. Wafat tahun 94 Hijriyah. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz.II, h.1822;

[20] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 951.NA.2935

[21] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952.NH.2943.

[22] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952.NH.2942

[23] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952.NH.2941.

[24] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952.NH.2942

[25] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952.NH.2941.

[26] Al-Sya’bi nama lengkapnya ‘Amir bin Syarahil bin ‘Abdi bin Dzi Kibari al-Sya’bi, seorang tabi’i. Lahir tahun 21 Hijriyah meninggal tahun 104 Hijriyah. Beliau meriwayatkan hadits dari para sahabat Nabi Muhammad saw. diantaranya Sa’ad bi Abi Waqas, Sa’id bin Zaid, Abu Musa al-Asy’ari, Adiy bi Hatim, Usamah bin Zaid Abu Hurairah dan banyak lagi para sahabat. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz II, h.2101.

[27] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952. NH.2944.

[28] Ibnu Sirin nama lengkapnya Muhammad bin Sirin, hamba sahaya Anas bin Malik meninggal tahun 110 Hijriyah. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Nabi Muhammad saw. diantaranya Abu Huairah, ‘Imran bin Hushain, Abdullah Ibnu Abbas, ‘Adi bin Hatim, Abdullah ibnu Umar, Syuraih dan lain-lain.  Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz III, h.3449

[29] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 952. NH.2945.

[30] Nama lengkapnya Masruq bin al-Ajda’ al-wadi’i adalah seorang tabi’i yang luas ilmunya, wafat tahun 63 Hijriyah. Beliau meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Bakar, Ubay bin Ka’ab, Mu’az bin Jabal, ‘Aisyah, Abdullah ibnu Masud dan banyak lagi sahabat. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Baitu Al-Afkar Al-Dauliyah, Libanon, 2004, Juz III, h.3823.

[31] Al-Dârimiy (w.255), Sunan al-Dârimiy, Beirut, Dâr al-Ma’rifah, 2000, h. 953.NH.2946.

[32] Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424 dan h.451. Lihat Pula Muhammad ‘Alauddin Ibnu Muhammad Amin, Qurratul’uyun al-Akhyar, dalam Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424 dan h.451; Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Darul Fikri, tth. Juz VI, h.389. Lihat pula Abu Bakar nama mashurnya al-Sayyid al-Bakri Ibnu al-Sayyid Muhammad Syattha al-Dimyathi,  Hasyiah I’anatutthalibin, Darul Fikri, Juz III, tth. h.224; Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.370; Lihat pula Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Dar Ibnu Hazm, 1999, h.679.

[33] Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424 dan h.451. Lihat Pula Muhammad ‘Alauddin Ibnu Muhammad Amin, Qurratul’uyun al-Akhyar, dalam Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424 dan h.451; Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Darul Fikri, tth. Juz VI, h.389. Lihat pula Abu Bakar nama mashurnya al-Sayyid al-Bakri Ibnu al-Sayyid Muhammad Syattha al-Dimyathi,  Hasyiah I’anatutthalibin, Darul Fikri, Juz III, tth. h.224; Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.370; Lihat pula Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Dar Ibnu Hazm, 1999, h.679.

[34] Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Daar Ibnu Hazm, 1999, h.679.

[35] Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.370;

[36] Malik bin Anas, Al-Muwattha, Beirut, Daru Ihya’itturatsi al-‘Arabiy, 2003, h.325; Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424; Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Darul Fikri, tth. juz VI, h.405 Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.367; Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Daar Ibnu Hazm, 1999, h.679.

[37] Malik bin Anas, Al-Muwattha, Beirut, Daru Ihya’itturatsi al-‘Arabiy, 2003, h.325; Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424; Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Darul Fikri, tth. juz VI, h.405 Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.367; Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Daar Ibnu Hazm, 1999, h.679.

[38] Malik bin Anas, Al-Muwattha, Beirut, Daru Ihya’itturatsi al-‘Arabiy, 2003, h.325; Muhammad Amin bin Umar bin ‘Abdul’aziz ‘Abidin al-Dimasyqa, Hasyiah Ibnu ‘Abidin, Beirut Darul Ihya al-Turats al-‘Arabi, Juz X, h. 424; Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Darul Fikri, tth. juz VI, h.405 Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.367; Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Daar Ibnu Hazm, 1999, h.679.

[39] Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.366 dan 373; Lihat Pula Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Ahmad bin Qudamah, Al-Syarhu al-Kabir, Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi, Al-Mugni, Kairo, Darul Hadits, 2004, juz 8, h.356 dan 364.

[40] Malik bin Anas, Al-Muwattha, Beirut, Darulihya al-Turats al-‘Adabiy, 2003, h.324-325. Lihat pula Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Darul Fikri, tth. juz VI, h.399-400;

[41] Hazairin, Hukum Kekeluargaan Nasional, Tinta Mas, Jakarta, 1982, h.57-59.